PELAYANAN PASIEN KANKER DALAM MASA PANDEMI COVID-19: TANTANGAN BAGI PERAWAT DAN PASIEN

0
478
Kunjungi kami di :

PENDAHULUAN

Pelayanan kesehatan pada pasien kanker merupakan pelayanan yang terus dikembangkan secara berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker dalam menjalani terapi yang membutuhkan waktu yang tidak singkat. Berdasarkan hasil RAKORNAS Himpunan Perawat Onkologi Indonesia (HIMPONI) pada tahun 2019, disampaikan bahwa kejadian penyakit kanker di Indonesia sebanyak 1.362 per 1 juta penduduk, dengan jumlah kematian sebanyak 109 per 1 juta penduduk. Angka kejadian penyakit kanker ini merupakan tantangan bagi seluruh komponen pengampu pelayanan kesehatan dalam upaya memberikan pelayanan terbaik untuk pasien kanker. HIMPONI Daerah Perwakilan Wilayah Bali sebagai cabang seminatan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), memiliki tanggung jawab untuk senantiasa meningkatkan kompetensi organisasi dan menjaga kualitas pelayanan kesehatan bagi pasien kanker sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Ini merupakan virus baru dan penyakit yang sebelumnya tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok pada bulan Desember 2019 dan saat ini telah dinyatakan sebagai pandemik global (WHO, 2020). Penyebaran virus ini sangat masif dan telah terjadi di 215 negara, dengan jumlah penderita terkonfirmasi positif 3.356.205 orang, dengan angka kematian sebanyak 238.730 jiwa di dunia. Penyebaran virus ini di Indonesia juga tercatat terus bertambah. Berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 update tanggal 8 Mei 2020 terdapat 13.112 kasus terkonfirmasi positif dan jumlah meninggal 943 jiwa, khususnya di Provinsi Bali jumlah kasus COVID-19 yang tercatat sampai saat ini adalah 300 pasien terkonfirmasi positif dengan jumlah meninggal 4 jiwa. Menindaklanjuti penyebaran virus ini, berbagai hal telah dilakukan oleh pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, baik dalam upaya pencegahan penyebaran, pengobatan serta rehabilitasi kejiwaan bagi masyarakat yang berisiko tertular maupun pasien dalam pengawasan dan terkonfirmasi positif.

PERMASALAHAN

Pada masa pandemik COVID-19 ini, ancaman resiko tertular bisa terjadi dimana saja, baik di tempat umum dan terlebih lagi dilingkungan rumah sakit. Ancaman mengakibatkan kekhawatiran bukan hanya kepada masyarakat atau pasien tetapi juga bagi petugas kesehatan seperti perawat. Banyak kasus telah terjadi akibat transmisi silang di lingkungan rumah sakit, sehingga seluruh lini pelayanan di rumah sakit telah melaksanakan tindakan pencegahan khusus yang harus diterapkan sesuai standar yang ditetapkan. Pelayanan pasien kanker di rumah sakit yang harus tetap berjalan dan bersinambungan juga tidak bisa lepas dari kondisi yang mengancam ini. Adapun kondisi nyata yang terjadi dilapangan terkait pelayanan pasien kanker yang dipengaruhi oleh ancaman terpapar COVID-19 yaitu:

  • Penundaan pelayanan terapi pasien kanker akibat dari keterbatasan sumber daya pelayanan rumah sakit, baik dari pengetahuan tentang risiko-risiko dan pencegahan universal baik pada layanan primer maupun layanan rujukan.
  • Alat Pelindung Diri (APD) pemberi layanan (keperawatan) dalam pelayanan pasien kanker yang terbatas.
  • Pasien enggan datang ke rumah sakit karena takut akan tertular penyakit COVID-19.

Sebagai bahan informasi kepada masyarakat khususnya perawat onkologi serta pasien kanker yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit, maka HIMPONI DPW Bali membuat tulisan ini yang dilaksanakan berdasarkan studi literatur serta pengalaman pelayanan pasien kanker di masa pandemi COVID-19 dari beberapa sumber yang telah dikumpulkan. Tulisan ini diharapkan memberikan gambaran terbaik bentuk layanan dan strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi transmisi silang coronavirus yang dapat terjadi pada pelayanan onkologi.

RISIKO, TANTANGAN DAN UPAYA PERAWAT DALAM MELAYANI PASIEN KANKER DI ERA COVID-19

Perawat onkologi merupakan garda terdepan dalam perawatan pasien kanker. Perawat onkologi terutama yang bersentuhan atau melakukan pelayanan langsung ke pasien berisiko tinggi terpapar infeksi COVID -19 dari pasien atau keluarga yang mengantarkannya. Pada masa pandemik ini beberapa istilah harus dikuasai oleh perawat onkologi, seperti : Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Orang Dalam Pemantauan (ODP), Orang Tanpa Gejala (OTG), serta kasus konfirmasi. Tujuannya adalah meningkatkan kewaspadaan perawat dalam merawat setiap pasien kanker guna mencegah paparan COVID-19.

Paparan COVID-19 kemungkinan dialami perawat ketika memberikan asuhan langsung ke pasien seperti melakukan pengukuran vital sign, memandikan pasien, menyuapi pasien, melakukan kegiatan nebulizer, melakukan suction pada pasien dan kegiatan perawatan lainnya. Pasien kanker yang mengalami batuk dan gejala like flu symptom, dan/ atau mempergunakan alat bantu seperti tracheostomy membutuhkan perhatian khusus, karena memungkinkan peningkatan risiko penularan yang lebih cepat yang disebabkan droplet yang disebarkan ke udara. Untuk itu, lima momen cuci tangan dengan enam langkah serta pemakaian APD sesuai standar wajib dilakukan dalam setiap melakukan tindakan keperawatan. Perawatan pasien kanker pada masa pandemi COVID-19 juga berpotensi membuat perawat onkologi sebagai garda terdepan dalam perawatan pasien kanker mengalami ketakutan dan kecemasan yang tinggi. Nuryani (2020) mengatakan bahwa stress dan kegelisahan dampak perawatan pasien kanker pada masa pandemi COVID-19 tidak dapat dihindari. Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk memanajemen stress dan kegelisahan perawat antara lain: menyeimbangkan antara pekerjaan dan istirahat, makan makanan yang sehat dan bergizi, tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak merokok.

Beberapa tantangan yang dihadapi perawat dalam memberikan asuhan di era pandemik COVID-19 adalah (Al-Tawfiq, 2019., WHO, 2020., Chan et al., 2020):

  1. Kurang meratanya pemberian APD bagi perawat di Rumah Sakit. Sebagian besar kematian akibat virus COVID-19 terjadi pada perawat yang memberikan asuhan di ruangan selain ruang isolasi dan UGD. Hal ini disebabkan karena minimnya penyediaan dan penggunaan APD standar di ruangan–ruangan tersebut dan pemberian prioritas APD hanya bagi perawat yang bekerja di ruang isolasi dan UGD. Sebagian besar dari perawat ini tertular dari pasien maupun keluarga pasien dengan status OTG.
  2. Dukungan fisik dalam merawat pasien. Dukungan fisik ini dapat berupa pemberian nutrisi dan vitamin, pola hidup bersih dan sehat, pengkajian yang benar terkait resiko yang dimiliki perawat misalnya penyakit kronik.
  3. Dukungan psikologis dalam merawat pasien. Stress, takut dan cemas merupakan hal yang sering dialami tenaga kesehatan dalam merawat pasien di era COVID-19, hal ini dapat menganggu keseimbangan tubuh pasien dan menurunkan sistem imun perawat.
  4. Shift jaga yang tidak sesuai. Perawat terutama yang bekerja di ruang rawat inap tidak dapat terhindar dari shift malam, dimana kurang tidur malam identik dengan gangguan metabolisme basal, gangguan detoksifikasi organ dan penurunan daya tahan tubuh.
  5. Pemahaman perawat tentang infeksi virus COVID-19 yang belum baik. Pemahaman yang baik tentang karakteristik infeksi virus COVID-19 merupakan salah satu kunci utama dalam pencegahan infeksi virus ini.

Sebagai tenaga kesehatan yang begerak di garda depan, perawat onkologi harus memiliki strategi menghadapi tantangan unik yaitu bagaimana menyeimbangkan antara menyediakan perawatan bagi pasien kanker yang efektif dan mengurangi risiko/dampak COVID-19. Perawat disarankan untuk menggunakan APD lebih dari sebelumnya (Nalley, 2020), cuci tangan dengan benar dan rutin (Ran et al, 2020; WHO,2020), dan meningkatkan kemampuan diri dalam komunikasi berbasis media sosial (Spinelli & Pellino, 2020). Stress dan kecemasan sangatlah mungkin terjadi pada perawat, menurut Adelayanti (dikutip dari Nuryani & Lisnawati, 2020) beberapa hal yang bisa direkomendasikan untuk mengatasi stress dan kecemasan adalah tetap menjaga komunikasi dengan orang terdekat untuk berbagi perasaan dan pengalaman merawat pasien. Untuk manajemen informasi yang benar perlu untuk memilih sumber-sumber informasi yang akurat seperti informasi dari pemerintah setempat, CDC, WHO, dan tentu saja tetap mempertahankan gaya hidup sehat. Sebagai informasi tambahan untuk penanganan pasien kanker pada pelayanan kesehatan (rumah sakit) yang direkomendasikan oleh Irawan & Sudarsa (2020) sebagai berikut:

  • Lingkungan rumah sakit yang terbebas dari infeksi, seperti skrining awal dan anamnesa yang ketat pada setiap pasien yang dilayani.
  • Pengaturan kunjungan pasien di poliklinik, seperti registrasi online, tempat pemeriksaan pasien berjarak minimal 1 meter antar meja.
  • Mempersiapkan ruangan khusus bagi pasien terindikasi terinfeksi dan/atau telah terinfeksi COVID-19.

RISIKO, TANTANGAN DAN UPAYA YANG DAPAT DILAKUKAN PASIEN DALAM MELANJUTKAN THERAPI DALAM MASA COVID-19

Pasien kanker menghadapi berbagai tantangan pada masa pandemik COVID-19, dimana mereka sangat rentan terkena COVID-19 yang disebabkan oleh proses malignancy, menjalani treatment anti kanker (seperti kemoterapi, targeted therapy, radiotherapy, immunotherapy) yang dapat menimbulkan status sistemik imunosupresif. Dampak dari treatment anti kanker yang dijalani bahkan menyebabkan efek virus corona (COVID-19) yang lebih berbahaya/ mematikan dibandingkan dengan pasien COVID-19 tanpa penyakit penyerta/ co-morbid. Potensi pasien kanker terpapar virus corona di dapatkan saat mereka harus ke rumah sakit maupun ke klinik pelayanan kesehatan untuk treatment rutin, kontak dengan petugas kesehatan maupun orang-orang di sekitarnya. WHO (2020) menyatakan bahwa pasien dengan co-morbid (kanker) lebih rentan 7,6% untuk terpapar COVID-19 dibandingkan dengan populasi secara umum tanpa co-morbid. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Liang et al. (2020) menyatakan bahwa terjadi insiden kematian lebih tinggi secara signifikan, maupun penggunaan ventilasi invasive di ICU pada pasien kanker yang menderita COVID-19 dibandingkan dengan pasien tanpa riwayat kanker (39% vs 8%; P = 0.0003).

Tantangan lainnya yang dihadapi pasien kanker terkait virus corona adalah stigma sosial dan diskriminasi sosial jika terkena COVID-19, acaman tidak diterima / diasingkan oleh masyarakat, bahkan termasuk seluruh keluarganya. Sehingga hal ini menyebabkan pasien kanker tidak mau datang ke pelayanan kesehatan karena takut tertular/ terpapar.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pasien kanker untuk dapat melanjutkan terapi di era pandemik COVID-19 adalah mencari informasi yang akurat, tepat dan jelas, termasuk cara mengakses pertolongan saat sakit. Upaya lainnya seperti mengikuti layanan tele-medecine / online (WhatsApp, Web-based, dll) untuk mengurangi kontak. Pasien kanker yang sedang menjalani therapy (kemoterapi, targeted therapy, radiotherapy, immunotherapy) sebaiknya tetap dilanjutkan sesuai jadwal. Tidak ada evidence yang menyatakan untuk menghentikan/ menunda terapi. Beberapa pasien kanker diharapkan bisa mendiskusikan dengan dokter spesialis onkologi masing-masing tentang kemungkinan untuk memodifikasi kemoterapi intravena ke kemoterapi oral (untuk memenuhi konsep stay at home) sehingga meminimalkan risiko infeksi. Untuk pasien kanker yang rencana operasi elektif sebaiknya di-reschedule, jika memungkinkan, dengan tetap mempertimbangkan efek buruk yang bisa terjadi berdasarkan diskusikan dengan dokter spesialis onkologi.

Upaya lain yang tidak kalah penting dan harus dilakukan adalah manajemen kesehatan mental, kehidupan psikososial, dan spiritual selain menjaga kesehatan fisik. Hal ini dapat dilakukan dengan latihan relaksasi pernafasan, musical therapy, yoga, dan lain-lain. Untuk upaya spiritual, khususnya di Bali bagi Umat Hindu agar mengikuti himbauan PHDI Bali mengadakan upacara Nangluk Merana Pamelepas Jagat yang bertujuan menjauhkan dari bencana dan hal-hal negatif, memohon keteduhan bumi, menghilangkan wabah yang tengah menyebar (NusaBali.com Maret 2020). Sedangkan untuk menjaga kesehatan fisik dianjurkan meningkatkan imunitas dengan cara makan makanan bergizi, minum air putih yang cukup, konsumsi suplemen atau vitamin (sesuai saran dokter), dan olah raga (jika memungkinkan). Terapkan anjuran pemerintah untuk sering cuci tangan dengan sabun, gunakan masker jika keluar rumah, menghindari kerumunan dan tetap jaga jarak fisik minimal 1 meter dengan orang lain.

REFERENSI

  1. Al-Shamsi HO, et. al. (2020). A Practical Approach to the Management of Cancer Patients During the Novel Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic: An International Collaborative Group. US National Library of Medicine National Institutes of Health : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/32243668.
  2. Al-Tawfiq JA, et. al. (2020). Infection control influence of Middle East respiratory syndrome coronavirus: A hospital-based analysis. American Journal of Infection Control: Volume 47, Issue 4, April 2019, Pages 431-434. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0196655318309441.
  3. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2020). Informasi Publik Pencegahan COVID-19
  4. Caroline Seymour (2020). Cancer Treatment During COVID-19 Pandemic: A ‘Patient-by-Patient Basis’. Oncology Nursing News : https://www.oncnursingnews.com/web-exclusives/cancer-treatment-during-covid19-pandemic-a-patientbypatient-basis.
  5. Chan JF, et al. (2020). A familial cluster of pneumonia associated with the 2019 novel coronavirus indicating person-to-person transmission: a study of a family cluster. Lancet: https://doi.org/10.1016/s0140-6736(20)30154-9.
  6. Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI (2020). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Revisi ke-4), Jakarta.
  7. Irawan, H. & Sudarsa, I. W. (2020). Penanganan Pasien Kanker dan Risiko Infeksi selama Wabah COVID-19. JBN (Jurnal Bedah Nasional), 4(1), p. 15. doi: 10.24843/jbn.2020.v04.is01.p04.
  8. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/ Menkes/104/2020 tentang Penetapan Infeksi Novel Coronavirus (Infeksi 2019-Ncov) Sebagai Penyakit Yang Dapat Menimbulkan Wabah Dan Upaya Penanggulangannya. Jakarta.
  9. L. Zhang et. al. (2020). Clinical characteristics of COVID-19-infected cancer patients: a retrospective case study in three hospitals within Wuhan, China. ESMO: Annals Of Oncology https://doi.org/10.1016/j.annonc.2020.03.296.
  10. Lambertini M, Toss A, Passaro A, et al. (2020). Cancer care during the spread of coronavirus disease 2019 (COVID-19) in Italy: young oncologists’ perspective. ESMO Open: https://esmoopen.bmj.com/content/esmoopen/5/2/e000759.full.pdf.
  11. Nalley, C. (2020). Navigating the COVID-19 Pandemic as an Oncology Nurse. News Oncology Times: April 20, 2020 – Volume 42 – Issue 8 – p 11,18 doi: 10.1097/01.COT.0000661864.55789.d7.
  12. Nuryani, S. N. A. & Lisnawati, L. G. (2020). Nurse’s Roles in Protecting Cancer Patients During COVID-19 Pandemic. JBN (Jurnal Bedah Nasional), 4(1), p. 25. doi: 10.24843/jbn.2020.v04.is01.p06.
  13. Shankar A et. al. (2020). Cancer Care Delivery Challenges Amidst Coronavirus Disease – 19 (COVID-19) Outbreak: Specific Precautions for Cancer Patients and Cancer Care Providers to Prevent Spread. US National Library of Medicine National Institutes of Health : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/32212779.
  14. Spinelli, A., & Pellino, G. (2020). COVID-19 Pandemic: Perspectives On An Unfolding Crisis. Br J Surg, 10.
  15. Timothy P. Hanna et. al. (2020). Cancer, COVID-19 and The Precautionary Principle: Prioritizing Treatment During A Global Pandemic. Nature Reviews Clinical Oncology: https://www.nature.com/articles/s41571-020-0362-6.pdf.
  16. WHO. (2020). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). WHO : Situation Report 23.
  17. WHO. (2020). Infection Prevention And Control. Retrieved from: https://www.who.int/infection-prevention/campaigns/clean-hands/5may2020/en/.